7 Gejala Awal Kanker Leher Rahim dan Penanganannya

Semua kanker pada prinsipnya merupakan pertumbuhan sel yang tidak normal atau terus- menerus dan tidak terkendali, serta dapat merusak jaringan sekitarnya serta dapat menjalar ke tempat yang jauh dari asalnya yang disebut metastasis. Kanker leher rahim pun juga memiliki sifat ini, dan tidak jarang efek kanker leher rahim stadium 4 disebabkan oleh mekanisme metastasis dari tumor kanker tersebut. Bahaya kanker leher rahim adalah dapat meyebabkan kematian dan berasal atau tumbuh dari setiap jenis sel di tubuh manusia.

Sponsors Link

Baca juga : waspadai bahaya kanker serviks

Leher rahim atau serviks sendiri adalah bagian terendah dari rahim yang terdapat pada puncak liang senggama atau jalan lahir yang disebut dengan vagina. Leher rahim hanya dapat dilihat dengan menggunakan alat yang disebut spekulum dimana alat ini berbentuk seperti mulut bebek. Penyebab kanker leher rahim paling utama sendiri adalah  sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus Human Papilloma Virus (HPV) atau virus papilloma pada manusia.

Virus HPV yang sering menyebabkan kanker leher rahim adalah HPV tipe 16 dan 18 dan tipe lain 31,33, 45 dan lain- lain. Karena itu dilakukan beberapa pemeriksaan rutin untuk pencegahan kanker leher rahim yaitu skrining kanker leher rahim berupa Pap smear dan tes IVA.

Baca juga: perbedaan kanker rahim dan kanker leher rahim

Di sisi lain, gejala awal yang menjurus ke kanker leher rahim perlu anda ketahui. Namun akan lebih baik lagi jika anda dapat mengenali faktor risiko yang meningkatkan risiko seseorang menderita kanker leher rahim.  Berikut akan diuraikan mengenai gejala awal kanker leher rahim dan faktor risikonya :

baca juga: jenis kanker serviks

1. Tanpa gejala

Kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi virus HPV. Infeksi awal dari virus  HPV pada leher rahim tidak langsung memberika gejala yang dapat dirasakan atau dialami oleh wanita. Infeksi ni juga tidak serta merta menyebabkan kanker leher rahim. Infeksi HPV ditularkan melalui hubungan seksual. Setiap 1 dari 10 orang perempuan yang terinfeksi HPV (10%-nya) akan mengalami perubahan menjadi lesi prakanker atau dysplasia jaringan epitel leher rahim (artinya terjadi perubahan sel pada leher rahim namun belum menandakan kanker servik ganas).

Awal infeksi HPV mungkin masih berupa lesi prakanker yan tidak bergejala namun dapat dideteksi melalui tes pap smear atau IVA. Karena itu, skrining tes ini sangat penting untuk menurunkan insiden kanker leher rahim. Lesi prakanker terjadi 2-3 tahun setelah infeksi HPV pada leher rahim. Apabila lesi tidak diketahui dan tidak diobati dalam waktu 3-17 tahun, lesi ini dapat berkembang menjadi kanker leher rahim.

Baca juga: ciri ciri kanker serviks stadium awal

2. Perdarahan abnormal dari jalan lahir

Perdarahan abnormal dari jalan lahir menandalan berbagai macam penyakit terkait organ kewanitaan. Penyebabnya dapat diketahui atau tidak diketahui. Salah satu penyebab perdarahan abnormal dari jalan lahir adalah kanker leher rahim. Perdarahan abnormal dari jalan lahir yang perlu diwaspadai sebagi gejala kanker leher rahim ada beberapa kondisi.

Sponsors Link

Pada kanker leher rahim perdarahan dapat terjadi setelah berhbungan seksual. Karena massa tumor yang rapuh dapat pecah saat berhubungan seksual. Perdarahan lain yang perlu dicurigai adalh perdarahan diluar siklus menstruasi, perdarahan setelah mengalami menopause, perdarahan atau timbul bercak- bercak diantara periode menstruasi, memiliki periode menstruasi yang lebih panjang dan volume darah yang lebih banyak dari kebiasaan menstruasi sehari- hari.

Baca juga: gejala kanker leher rahim stadium 1

3. Keputihan bercampur darah

Keputihan hampir dialami oleh semua wanita. Keputihan dapat bersifat fisiologis atau normal dan patologis atau tidak normal. Keputihan yang menandakan gejala kanker leher rahim adalah keputihan yang patologis. Keputihan ini bercampur dengan darah dan bisa terjadi antara masa menstruasi atau setelah menopause.

Baca juga: penyebab keputihan pada kanker serviks

4. Nyeri saat berhubungan seksual

Nyeri di saat berhubungan seksual dikatakan normal jika dialami pada saat pertama kali melakukan hubungan seksual. Namun, jika nyeri datang kembali terutama pada usia tua dapat terjadi disebabkan karena kanker leher rahim.

Bca juga: gejala kanker serviks stadium 3

ads

5. Riwayat reproduksi tertentu

Beberapa wanita memiliki riwayat reproduksiyang berisiko meningkatkan kemungkinan dirinya menderita kanker leher rahim. Perempuan yang memiliki riwayat melakukan hubungan seksual sebelum berusia 18 tahun berisiko tinggi menderita kanker leher rahim. Karena organ reproduksi belum berkembang sepenuhnya. Wanita yang sering berganti- ganti pasangan seksual juga meningkatkan risiko terinfeksi virus HPV yang menyebabkan kanker leher rahim.

Selain itu, anda juga akan rentan infeksi lain seperti infeksi HIV. Mereka yang menderita infeki kelami yang ditulakan melalui hubungan seksual juga memiliki risiko menderita kanker leher rahim. Walaupun seorang wanita tidak pernah berganti- ganti pasangan berhubungan seksual, namum pihak pria yang berganti- ganti pasangan maka wanita tersebut dapat memiliki risiko menderita kanker leher rahim yang lebih besar.

Baca juga: cara mengetahui faktor risiko kanker serviks

6. Riwayat keluarga

Riwayat keluarga seorang wanita yang memiliki ibu atau saudara kandung yang menderita kanker leher rahim dapat meningkatkan risiko menderita kanker leher rahim. Hal ini disebabkan karena gen yang dimiliki cukup rentan terhadap infeksi virus HPV. Riwayat perokok juga meningkatkan risiko menderita kanker serviks.

Baca jga: Pengaruh rokok terhadap kanker leher rahim

7. Hasil pemeriksaan penapisan kanker leher rahim memberikan hasil positif

Tes penapisan kanker leher rahim menggunakanbeberapa tes yaitu tes HPV, tes Pap atau pap smear, tes IVA, servikografi, dan kolposkopi. Berikut akan dibahas mengenai masing -masing tes

Baca juga: cara deteksi dini kanker serviks

  • Tes HPV

Tes ini merupaan tes di tingkat molekuler DNA. Tes ini dapat mendeteksi adanya virus HPV melalui DNA sel yang terinfeksi. Sel diambil dari jaringan serviks atau leher rahim atau vagina. teknik pemeriksaan molekuler DNA sel yang terinfeksi dengan HPV, diuji dari sebuah contoh sel yang diambil dari leher rahim atau liang senggama atau vagina. Tes ini akan bernilai positif jika ditemukan DNA virus HPV

Pemeriksaan sitologis dari apusan sel- sel yang diambil dari leher rahim. Apusan ini dibuat pada slide kaca yang kemudian diberi warna yang kemudian dilihat di bawah mikroskop. Jika terdapat hasil yang positif pada pemeriksaan pertama kali pap smear perlu diulang apakah hasil ini tetap konsisten memberikan hasil yang positif lesi prakanker atau kanker leher rahim.

  • Tes IVA

IVA kepanjangan dari Inspeksi Visual Asetat, merupakaan pemeriksaan dengan mata telanjang dengan terlebih dahulu membubuhi seriks dengan larutan asam asetat  konsentras 3%. Pemeriksaan dilakukan tidak dalam keadaan hamil maupun sedang haid. Pemeriksaan IVA yang sudah positif beberapa kali juga harus dilakukan pap smear kemudian untuk mengonfirmasi hasilnya.

  • Servikografi

Servikografi adalah sebua cara untuk mengambil foto leherrahim dengan menggunakan kamera khusus. Film dicetak dan foto diinterpretasi oleh petuga terlatih. Pemeriksaan ini terutama digunakan sebagai tambahan dari deteki dini denan menggunakan IVA, dapat juga sebagai metode penapisan awal

  • Kolposkopi

Kolposkopi merupakan pemeriksaan visual leher rahim dengan perbesaran yang besar sekali. Melalui pemeriksaan ini bagian luar dan kanal bagian dalam leher rahim dapat terlihat. Biasanya disertai biopsi jaringan ikat yang tampak abnormal. Hal ini dilakukan juga untuk diagnosis.

,
Post Date: Tuesday 25th, July 2017 / 07:20 Oleh :
Kategori : Kanker Serviks