Operasi Kanker Payudara : Metode, Biaya, Resiko dan Perawatan Pasca Operasi

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di Indonesia. Kasus kanker payudara sering kita temui di sekitar kita dan tidak jarang penanganan yang diberikan terlambat akibat kanker telah ditemukan di stadium lanjut. Biasanya, kanker payudara dapat dideteksi sedini mungkin melalui pemeriksaan rutin. Bahkan, kanker payudara primer, atau jenis kanker payudara yang memang tumbuh di payudara sejak awal, umumnya bisa disembuhkan secara total jika ditemukan dan diobati sedini mungkin. Namun, sayangnya masih banyak wanita yang memiliki kesadaran kurang untuk memeriksa kesehatan payudara secara rutin.

Sponsors Link

Baca juga:

Akibat dari kurangnya kesadaran dan kewaspadaan terhadap kanker payudara, seringkali pasien kanker payudara baru ditangani saat kondisi kanker telah berkembang lebih parah. Jika kanker payudara telah memasuki stadium lanjut, maka besar kemungkinan sel kanker telah menyebar ke organ tubuh yang lain. Hal ini akan lebih sulit ditangani. (Baca Juga: Manfaat Vitamin C Untuk Kanker)

Cara Pengobatan Kanker Payudara

1. Kemoterapi

Kemoterapi memiliki dua jenis, yaitu kemoterapi yang diberikan setelah operasi untuk menghancurkan sel-sel kanker yang tersisa dan kemoterapi yang diberikan untuk mengecilkan tumor. Jenis dan kombinasi obat untuk perawatan kemoterapi akan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan penyebaran kanker payudara yang diderita pasien. (Baca juga: Kemoterapi Kanker : Efek Samping dan SejarahEfek Kemoterapi Kanker Getah Bening)

Biasanya, kemoterapi akan memberi efek samping seperti hilangnya nafsu makan, mual, sariawan, rambut rontok, rentan infeksi dan lain-lain. Tidak hanya itu, kemoterapi bisa mengganggu produksi hormon estrogen di tubuh. Hal ini akan berpengaruh juga pada siklus menstruasi wanita. Biasanya, dokter akan memberi obat-obatan lain untuk mencegah atau mengendalikan efek samping yang mungkin muncul.

2. Radioterapi

Radioterapi adalah proses perawatan untuk memusnahkan sel-sel kanker yang mungkin tersisa di tubuh pasien. Radioterapi biasanya diberikan sebulan setelah pasien menjalani operasi dan kemoterapi. Hal ini dilakukan demi memberi tubuh waktu istirahat dan pulih dari efek perawatan yang sebelumnya. (Baca juga: Bahaya Kanker Payudara , Radioterapi Kanker Serviks : Proses, Cara dan Efek Sampingnya)

Prosedur radioterapi juga memiliki efek samping tertentu. Misalnya, iritasi, kulit payudara perih dan memerah, kulit payudara berubah warna, hingga rasa kelelahan yang sangat.

3. Terapi Hormon

Terapi hormon dilakukan khusus untuk kanker payudara yang dipicu oleh produksi estrogen atau progesteron alami. Terapi hormon dilakukan untuk menurunkan keparahan kanker atau menghambat efek samping dari hormon tersebut. Terapi ini juga bisa diberikan sebelum operasi untuk mengecilkan ukuran tumor agar lebih mudah diangkat. Selain itu, terapi hormon biasanya dilakukan setelah operasi dan kemoterapi. (Baca Juga: Cara Mengobati Kanker Rahim , Benarkah Susu Kedelai Penyebab Kanker Payudara)

Terapi hormon juga merupakan pilihan bagi pasien yang tubuhnya kurang sehat dan kurang kuat untuk menjalani proses operasi, kemoterapi ataupun radioterapi. Waktu perawatan menggunakan terapi hormon ini disarankan paling lama lima tahun setelah operasi. Jenis terapinya pun akan disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien, seperti usia subur, tingkat perkembangan kanker, hingga jenis pengobatan lain yang mungkin sedang sedang dijalani pasien.

4. Ablasi atau Supresi Ovarium

Metode ini akan menghentikan kinerja ovarium dalam memproduksi hormone estrogen. Ablasi ovarium dapat dilakukan dengan operasi atau radioterapi. Metode ini akan memicu terjadinya menopause dini pada wanita.(Baca juga: Cara Penyembuhan Kanker Tiroid , Gejala Kanker Ovarium)

Sedangkan, supresi obarium adalah pengobatan menggunakan agonis luteinizing hormone-releasing hormone (aLHRH) yang bernama goserelin. Pasien yang mengkonsumsi obat ini akan mengalami menstruasi yang terhenti sementara. Efek samping pemberian obat ini adalah gejala seperti menopause. Namun, gejala akan berhenti setelah pasien menghentikan konsumsi obat ini. Menstruasi pun akan kembali normal jika konsumsi obat dihentikan.

ads

 

5. Terapi Biologis dengan Trastuzumab

Kanker payudara juga dapat disebabkan karena dipicu oleh protein HER2 (human epidermal growth factor receptor). Terapi biologis ini akan menghentikan efek dari HER2, serta meningkatkan kekebalan tubuh melawan sel-sel kanker. Namun, terapi ini tidak cocok bagi pasien yang juga mengalami penyakit jantung, seperti hipertensi atau penyakit katup jantung. (Baca Juga: Manfaat Chia Seed Untuk Pengobatan Kanker Manfaat Tomat untuk Kanker)

6. Operasi Pengangkatan

Metode yang paling utama bisa dilakukan pada pasien kanker payudara adalah operasi pengangkatan tumor atau kanker payudara. Bagi pasien kanker payudara stadium awal, operasi pengangkatan tumor yang dikombinasikan dengan radioterapi memiliki kemungkinan untuk sukses sama tingginya dengan operasi pengangkatan payudara secara menyeluruh.

Baca juga:

Operasi Kanker Payudara

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, operasi pengangkatan merupakan pengobatan yang cukup efektif untuk mengatasi kanker payudara. Operasi kanker payudara memiliki beberapa jenis, sebagai berikut:

1. Lumpektomi

Lumpektomi merupakan prosedur mengangkat tumor di payudara. Dengan lumpektomi, payudara akan dibiarkan seutuh mungkin dan hanya mengangkat tumor payudara saja. Biasanya operasi ini dianjurkan untuk pasien yang memiliki tumor berukuran kecil sehingga operasi bisa dilakukan dengan hanya mengangkat tumor tersebut beserta sesedikit mungkin jaringan sehat di sekitarnya. (Baca juga: Perbedaan Kanker dan Tumor secara Umum , Penyebab Kanker Payudara pada Laki laki)

Beberapa pertimbangan yang menjadi dasar dilakukannya lumpektomi adalah ukuran tumor yang harus diangkat, banyaknya jaringan di sekitar tumor yang juga harus ikut diangkat, jenis tumor, lokasi, hingga ukuran payudara pasien.

2. Masktektomi

Jika lumpektomi akan mengangkat tumor yang berkembang di payudara saja, prosedur mastektomi akan mengangkat payudara secara keseluruhan. Prosedur operasi ini akan mengangkat seluruh jaringan payudara, termasuk puting pasien. Saat melakukan prosedur mastektomi, pasien juga bisa melakukan prosedur biopsi noda limfa sentinel jika belum menunjukkan gejala penyebaran kanker ke kelenjar getah bening. Namun, jika kanker terindikasi telah menyebar hingga ke kelenjar getah bening di ketiak, maka pasien akan dianjurkan untuk menjalani proses pengangkatan kelenjar getah bening juga.

Baca juga:

Ada beberapa jenis metode operasi mastektomi yang bisa dilakukan. Metode mastektomi akan ditentukan sesuai stadium kanker serta pertimbangan-pertimbangan lain, seperti estetika, misalnya. Berikut ini beberapa metode mastektomi yang bisa dilakukan pada pasien kanker payudara:

3. Mastektomi Radikal

Mastektomi radikal saat ini semakin jarang dilakukan. Metode ini dilakukan dengan mengangkat payudara secara keseluruhan termasuk puting. Tidak hanya itu, mastektomi radikal juga akan mengangkat kulit bagian atas payudara, otot dada di bawah payudara, hingga kelenjar getah bening.

Baca juga:

4. Mastektomi Radikal Modifikasi

Metode mastektomi radikal modifikasi ini hampir sama dengan mastektomi radikal sebelumnya, tapi dengan tetap menyisakan otot dada. Maka, seluruh bagian payudara akan diangkat bersama kelenjar getah bening. Namun, untuk kulit di bagian atass payudara bisa dibiarkan maupun ikut diangkat. (Baca Juga: Makanan Pencegah Kanker Kelenjar Getah Bening)

5. Mastektomi Parsial

Tindakan ini hanya akan mengangkat bagian payudara yang terkena tumor. Biasanya, terapi radiasi akan diberikan setelah tumor atau sel kanker telah diangkat untuk membunuh sisa-sisa sel kanker dan mencegah penyebaran sel kanker. Biasanya, metode ini dilakukan pada pasien kanker payudara stadium 1 atau stadium 2. (Baca juga: Kanker Payudara Stadium 1  , Kanker Payudara Stadium 2)

Mastektomi preventif dilakukan pada wanita yang memiliki resiko kanker payudara tinggi secara genetic. Menurut penelitian, mastektomi preventif akan bisa mengurangi resiko terjadinya kanker payudara sebesar 90% pada golongan wanita beresiko kanker tersebut.

Metode ini dilakukan dengan mengangkat payudara secara keseluruhan beserta putingnya ataupun tetap mempertahankan puting. Tidak hanya dilakukan pada wanita yang beresiko kanker, mastektomi preventif juga bisa dilakukan pada wanita yang telah menderita kanker di salah satu payudara dan ingin mencegah terjadinya kanker pada payudara lainnya dengan mengangkatnya.

Biaya Operasi Kanker Payudara

Menjalani operasi untuk kanker payudara tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk operasi pengangkatan kanker sendiri bisa memakan biaya paling sedikit 10 hingga 15 juta rupiah. Tentu biaya ini masih di luar biaya rumah sakit, kunjungan dokter, obat-obatan dan lain sebagainya. Harga bisa bergantung pada rumah sakit dan pengobatan atau pelayanan yang Anda pilih. (Baca Juga: Makanan Pemicu Kanker Serviks , Makanan Pemicu Kanker Payudara)

Selain biaya operasi kanker itu sendiri, Anda juga perlu mempertimbangkan biaya perawatan setelah operasi, seperti radioterapi atau kemoterapi yang diberikan. Biasanya, pasien kanker payudara akan menjalani perawatan radioterapi atau penyinaran di sekitar organ payudara yang diangkat sebanyak 15 kali atau lebih. Tidak hanya itu, penderita kanker payudara stadium lanjut juga akan disarankan menjalani prosedur kemoterapi yang akan berguna untuk mencegah penyebaran kanker dan meredakan gejala kanker. Harga obat kemoterapi sendiri bisa mencapai dua hingga empat juta rupiah untuk sekali suntik. (Baca juga: Makanan yang Dapat Menyebabkan Kanker , Makanan Penyebab Utama Kanker Nasofaring)

Resiko Operasi Kanker Payudara

Operasi kanker payudara, meski dapat meningkatkan tingkat kesembuhan pasien, memiliki beberapa efek samping. Pasien kanker payudara seringkali mengalami kondisi kulit di daerah payudara terasa ketat, hingga otot lengan terasa lebih lemah. Pada pasien kanker payudara yang menjalani prosedur operasi pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak juga bisa mengalami kondisi lengan yang membesar disebabkan limfadema. Berikut ini adalah beberapa keluhan yang umum dialami oleh pasien kanker payudara yang telah menjalani operasi:

  • Menopause dini, yaitu berhentinya menstruasi meski usia belum mencapai 40 atau 50 tahun
  • Gejala menopause, seperti menstruasi tidak teratur, jantung berdebar, dan lain-lain
  • Gangguan pada kesuburan reproduksi
  • Tekanan emosional atau rasa depresi
  • Kelelahan yang berlebihan, bahkan saat tidak beraktivitas
  • Gangguan tidur
  • Aktivitas seksual yang terganggu

(Baca Juga: Penyebab Kanker Kandung Kemih , Gejala Kanker Anal)

Sponsors Link

Perawatan Pasca Operasi

Bagi pasien kanker payudara yang telah menjalani operasi pengangkatan, biasanya akan mengalami gangguan rasa percaya diri. Untuk mengatasinya, pasien bisa menjalani operasi plastic rekonstruksi payudara. Dengan operasi ini, akan dibuat payudara baru semirip mungkin dengan payudara yang tersisa. Operasi rekonstruksi ini bisa dilakukan bersamaan dengan prosedur mastektomi atau beberapa waktu setelah mastetomi selesai. (Baca Juga: Manfaat Nanas Untuk Penderita Kanker , Manfaat Petai Untuk Kanker)

Tentu prosedur ini akan membantu pemulihan pasien kanker payudara pasca operasi, terutama untuk pemulihan secara psikologis. Namun, selain itu ada beberapa perawatan lain yang bisa dilakukan pasca operasi kanker payudara, seperti berikut ini:

  1. Konsumsi obat secara teratur

Pasien biasanya akan diberikan obat-obatan yang akan membantu pasien menjalani masa pemulihan. Salah satu obat yang biasanya diberikan oleh dokter adalah obat Pereda nyeri. Konsumsilah obat-obatan yang diresepkan dokter secara teratur untuk bisa segera memulihkan kesehatan Anda kembali. (Baca juga: Manfaat Daun Kelor Untuk Pengobatan Kanker)

  1. Menjaga kebersihan perban

Biasanya, luka bekas operasi akan ditutup dengan perban untuk mencegah adanya kotoran yang menempel dan menginfeksi luka jahitan. Maka, sebaiknya pasien mencari tahu terlebih dahulu bagaimana cara perawatan perban supaya luka operasi bisa sembuh maksimal. (Baca juga: Manfaat Daun Dewa Untuk Kanker)

  1. Merawat drain

Kadang-kadang dokter akan tetap memasang drain pada pasien satu hingga dua minggu pasca operasi. Untuk itu, pasien harus mengetahui juga bagaimana cara merawat drain dan mengosongkan tabung drain tersebut. (Baca Juga: Manfaat Jahe Untuk Penderita Kanker)

  1. Memperhatikan kondisi jahitan bekas operasi

Perhatikan kondisi jahitan bekas operasi. Sebaiknya pasien menghindari aktivitas berat pasca operasi payudara untuk menjaga agar jahitan bekas operasi tidak kembali sobek. (Baca Juga: Manfaat Akupresur Untuk Kanker  )

  1. Waspada terhadap gejala infeksi

Pasien juga disarankan untuk selalu waspada terhadap gejala infeksi. Jika ada gejala seperti demam, bengkak, atau gejala aneh lainnya, sebaiknya pasien segera berkonsultasi pada dokter untuk mencegah adanya infeksi atau hal-hal tidak diinginkan lain pasca operasi.(Baca Juga: Manfaat Lemon Untuk Kanker)

, , , , , ,
Post Date: Tuesday 24th, January 2017 / 08:33 Oleh :
Kategori : Kanker Payudara