Sponsors Link

10 Tanda tanda Kanker Rahim dan Pengobatan Medisnya

ads

Kanker rahim merupakan sebuah jenis kanker yang kita juga kenal dengan istilah kanker uterus. Endometrium atau lapisan bagian paling dalam pada rahimlah yang terserang oleh tumor ganas, padahal endometrium ini adalah area di mana ovum yang sudah dibuahi menempel. Rahim merupakan bagian vital pada sistem reproduksi setiap perempuan dan kanker ini bahkan diketahui berada pada peringkat ke-6 dunia.

Karena cukup sering terjadi pada wanita, maka memang kanker rahim menjadi salah satu momok yang di Indonesia sendiri pun cukup banyak penderitanya. Selain kanker serviks serta kanker payudara, kanker rahim pun juga banyak dialami oleh perempuan Indonesia. Maka tak heran kalau kanker jenis ini masuk dalam 10 besar kanker yang dialami perempuan di negara kita.

Layaknya jenis kanker pada umumnya, pemicu pasti dari kanker rahim ini belumlah diketahui. Tapi tetap saja ada beberapa faktor risiko yang memperbesar potensi seorang perempuan untuk mengidap kanker rahim. Di bawah ini adalah faktor-faktor pemicu yang sebaiknya diketahui oleh setiap wanita.

  • Usia wanita yang sudah lebih dari 50 tahun.
  • Pada endometrium terdapat polip.
  • Tidak mempunyak anak atau tak bisa hamil.
  • Menstruasi dini sebelum usia mencapai 12 tahun dan menopause dini pada usia sekitar 50 tahun.
  • Penggunaan tamoksifen. Tamoksifen ini pemakaiannya biasanya adalah dengan tujuan mengatasi atau sekadar mencegah gejala kanker payudara. Rupanya obat ini malah justru memperbesar risiko seorang wanita untuk terkena kanker rahim. Ada efek antiestrogen yang ditawarkan tamoksifen ini pada sel kanker payudara, tapi efek estrogeniklah yang diberikan pada rahim.
  • Menderita Endometrial hyperplasia atau jumlah sel lapisan rahim yang terus meningkat. Memang kondisi ini bukanlah tergolong kanker, tapi ada potensi untuk berkembang menjadi kanker.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan. Wanita dengan kadar estrogen yang sangat tinggi dapat membuat potensi kanker rahim lebih besar. Kadar estrogen yang tinggi ini diawali oleh adanya sebagian estrogen pada tubuh yang pembentukannya ada di jaringan lemak tubuh.
  • Terapi HRT atau sulih hormon. HRT sendiri adalah singkatan dari Hormone Replacement Therapy di mana penggunaan terapi ini bertujuan agar gejala-gejala menopause dapat diatasi. Ketika dosisnya terlalu tinggi serta pemakaiannya secara jangka panjang, wanita akan berpotensi lebih besar mengalami kanker rahim.

Setelah kita melirik sedikit akan sejumlah faktor risiko dari kanker rahim, kita pun perlu tahu apa saja yang menjadi tanda-tanda kanker rahim. Mengenali tanda atau ciri-cirinya sedari awal akan lebih menguntungkan karena penanganannya pun belum sulit. Di bawah inilah segala tanda yang bisa dilihat dan diwaspadai.

(Baca juga: kanker serviks pada wanita)

  1. Pendarahan pada Vagina

Vagina yang mengalami pendarahan meski sudah lewat dari masa menstruasi perlu dicurigai. Banyak juga wanita yang kurang memerhatikan daerah kewanitaannya sehingga ketika bercak darah terjadi, tidak melakukan tindakan apapun. Mengabaikan pendarahan yang terjadi pada vagina bukanlah ide yang baik walaupun hal ini juga terkadang dapat dianggap sebagai suatu hal yang normal.

Mewaspadai pendarahan tersebut akan jauh lebih baik. Jadi, seketika Anda menyadari adanya pendarahan apalagi bila terjadi terlalu sering, segeralah memeriksakan diri. Waspada itu perlu karena kita tidak pernah tahu bahaya penyakit apa yang mengancam kesehatan kita, khususnya bila usia sudah berada di atas 50 tahun. Pendarahan di luar siklus menstruasi dan setelah lewat menopause secara berlebihan harus dicurigai dan diperiksakan segera.

  1. Kacaunya Siklus Menstruasi

Menstruasi sudah ada siklusnya sendiri, namun ketika siklusnya tidak seperti biasa dan kacau, Anda patut untuk mencurigainya. Bila siklus datang bulan menjadi abnormal, cobalah untuk mengonsultasikannya dengan dokter. Siklus yang tidak lancar memang biasanya tidak begitu berpengaruh, tapi bila ini bukan sekali atau dua kali, cobalah untuk periksakan diri.

(Baca juga: pengobatan kanker serviks)

sponsored links
  1. Nyeri saat Buang Air Kecil

Ketika buang air kecil tak senyaman biasanya dan muncul rasa sakit, ini memang bukan selalu menjadi tanda kanker rahim. Nyeri ketika buang air kecil dapat menjadi suatu tanda berbahaya. Bila terjadi terlalu sering atau setiap kali buang air kecil, pastikan untuk ke dokter demi memastikan rasa nyeri itu benar-benar tanda kanker rahim atau bukan.

  1. Kram Panggul

Rasa kram yang timbul di area panggul dan munculnya terlalu sering bisa jadi adalah tanda kanker rahim. Apabila sampai rasa kram tersebut berkepanjangan, ini tentu bukan gangguan pada panggul biasa dan dapat berubah menjadi lebih kronis. Ada 5 kemungkinan terjadinya kram pada panggul, seperti misalnya penyakit kronis di bagian vulva atau yang dinamakan dengan istilah vulvodynia.

Ada juga kondisi pelvic congestion syndrome di mana ini juga diketahui sebagai konisi varises yang muncul pada panggul dan bukannya di bagian kaki. Kram panggul juga bisa menjadi gejala dari pelvic floor tension myalgia atau otot dasar panggul yang mengalami ketegangan kronis. Selain itu juga interstitial cystitis menjadi penyakit dengan gejala kram pada panggul, yaitu kondisi kandung kemih yang terasa seperti terbakar ketika proses buang air kecil.

Karena beragam kondisi itulah, maka penting untuk mengecek apakah kram pada panggul Anda merupakan gejala dari kanker rahim. Ada potensi bahwa Anda tengah mengalami kondisi penyakit lainnya tersebut. Namun bila disertai dengan adanya tanda-tanda lainnya, maka potensi kanker rahim bisa jauh lebih besar.

(Baca juga: manfaat ace maxs untuk kanker serviks)

  1. Nyeri saat Melakukan Hubungan Intim

Rasa nyeri pun tak terhindarkan sewaktu berhubungan intim dengan suami. Ketika rasa nyeri ini tidak timbul hanya sekali dua kali tapi lebih, kemungkinan memang ada yang kurang beres pada bagian endometrium Anda. Potensi mengalami kanker rahim dan kanker serviks cukup besar, maka sebaiknya periksakan diri ke dokter supaya jelas.

  1. Adanya Cairan Putih

Cairan putih juga bisa keluar dari vagina di mana bentuknya termasuk encer dan biasanya berwarna jernih. Ini biasanya dialami oleh wanita yang sudah melewati masa menopause. Kebanyakan wanita tidak menyadari bahaya dibalik tanda-tanda seperti ini dan lebih memilih untuk mengabaikannya. Padahal bila cairan putih yang keluar dapat menandakan adanya tumor di rahim Anda, jadi jangan terlambat untuk ke dokter dan memenuhi prosedur diagnosa.

(Baca juga: penyebab keputihan pada kanker serviks)

  1. Perdarahan Tidak Teratur

Perdarahan yang terjadi di bagian vagina rupanya juga bisa terjadi secara tidak teratur dan ini biasanya kita kenal sebagai ciri-ciri kanker serviks invasif. Meski demikian, Anda perlu menempuh metode diagnosa agar jelas apakah benar kanker rahim atau justru kanker serviks yang menjangkit tubuh Anda.

Perdarahan ini biasanya bisa terjadi pada masa datang bulan serta setiap sesudah berhubungan intim dengan suami. Itu artinya selain rasa nyeri atau sakit yang dialami ketika melakukan hubungan seksual, setelahnya dapat berkemungkinan mengeluarkan darah. Dengan adanya tanda seperti ini, jangan abaikan atau kondisi dapat memburuk bila tak segera mendapatkan penanganan yang benar.

  1. Kelelahan

Rasa lelah bisa saja menyertai tanda-tanda kanker rahim yang sudah disebutkan sebelumnya. Rasa lelah ini dapat dikarenakan keluarnya banyak darah sehingga seperti kondisi anemia di mana seorang wanita kekurangan darah. Kekurangan banyak darah apalagi di luar masa menstruasi dan terjadi secara terus-menerus dapat membuat tubuh lemas.

Rasa cepat lelah pun tak dapat terelakkan bila tubuh tak memiliki banyak darah. Organ-organ vital di dalam tubuh pun menjadi kurang berfungsi dengan baik karena aliran darah yang harusnya tersuplai sempurna ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Cobalah untuk segera mendapatkan penanganan medis dengan menempuh jalur diagnosa lebih dulu untuk memastikan.

(Baca juga: pil kb menyebabkan kanker serviks)

  1. Penurunan Berat Badan

Turunnya berat badan yang menyertai tanda-tanda yang disebutkan sebelumnya dapat menunjukkan potensi kanker rahim. Penurunan berat badan dapat terjadi dikarenakan efek kelelahan maupun berkurangnya nafsu makan juga. Rasa nyeri yang membuat tubuh tidak nyaman secara tidak langsung dapat berimbas pada bobot tubuh kita.

  1. Kaki Bengkak

Selain dari sulit buang air, kram panggul, kelelahan dan turunnya berat badan, pembengkakan pada kaki adalah tanda kanker rahim ketika sudah masuk ke tingkat atau stadium yang lebih tinggi. Ada perkembangan dari gejala yang tampak dan bakal dialami oleh penderitanya. Contohnya adalah pembengkakan yang terjadi di kedua atau salah satu kaki.

(Baca juga: manfaat daun sirsak untuk kanker serviks)

Metode Pengobatan

Ingat bahwa stadium kanker Anda akan menentukan metode pengobatan seperti apa yang akan Anda peroleh. Tidak ada salahnya untuk bertanya lengkap kepada dokter jika memang ragu terhadap metode pengobatannya. Selama kanker belum beranjak ke stadium lanjut atau 4, masih ada kemungkinan untuk disembuhkan. Namun pengobatan pun diberikan dengan tujuan hanya untuk memperkecil ukuran kanker serta memperlambat pertumbuhannya.

  • Pengangkatan Rahim

Istilah medis dari pengangkatan rahim ini adalah histerektomi di mana ini adalah metode untuk menangani kanker rahim pada umumnya. Dokter akan paling sering menganjurkan cara ini untuk mengatasi kanker rahim. Namun Anda perlu tahu risikonya bahwa dengan pengangkatan rahim, otomatis kemungkinan untuk hamil pun menjadi tidak ada.

Sponsors Link

Itulah mengapa penderita kanker rahim yang memiliki harapan untuk memiliki anak terkadang tak ingin memilih jalan satu ini. Maka sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter apabila ragu untuk menempuh jalur pengobatan ini.

Khusus bagi penderita dengan kanker rahim stadium paling awal atau stadium 1, operasi yang perlu dijalankan adalah pengangkatan tuba falopi, kedua ovarium dan rahim itu sendiri. Sampel dari noda limfa juga akan turut diambil oleh dokter sehingga penyebaran kanker dapat terdeteksi. Sementara pada penderita yang mengalami kanker rahim stadium 2 atau 3, jenis histerektomi yang dianjurkan adalah yang total atau radikal. Kedua ovarium dan tuba falopi, serviks, vagina bagian atas serta rahim adalah yang bakal diangkat.

Operasi pengangkatan pun juga akan dilakukan bagi yang telah menderita kanker rahim stadium paling akhir. Dalam prosesnya, metode pengangkatan kanker ini bakal dilakukan semaksimal mungkin. Namun prosedur satu ini tak hanya untuk menyembuhkan, tapi gejala yang diderita pun akan berkurang. Kemoterapi dan radioterapi tetap diperlukan setelah melakukan pengangkatan demi menurunkan potensi kembalinya kanker.

(Baca juga: cara mencegah kanker serviks)

Penderita kanker rata-rata akan memilih jalur kemoterapi di mana biasanya penderita kanker rahim bisa menggunakannya bila kanker telah berada pada stadium 3 atau 4. Pemberian obat kemoterapi pun biasanya dilakukan melalui infus dan itu pun secara bertahap. Pada umumnya, pengobatan dengan kemoterapi juga dilakukan setelah histerektomi pada kasus kanker stadium lanjut supaya kanker tidak menyebar cepat. Gejala pun dapat dikurangi dengan pengobatan ini, tapi waspadai efek samping, seperti mual, muntah, lelah, serta rambut rontok.

  • Terapi Hormon

Kanker rahim yang stadiumnya sudah cukup lanjut biasanya bakal perlu diobati dengan terapi hormon. Penderita yang mengalami munculnya kanker kembali juga sangat dianjurkan untuk menangani kanker rahim dengan metode ini. Metode ini adalah pengobatan yang bertujuan untuk membuat tumor lebih kecil dan mengendalikan perkembangan gejala.

Dokter memberikan terapi hormon melalui bentuk tablet akan hormon progesteron artifisial. Ini gunanya adalah sebagai pengganti progesteron alami yang sebenarnya ada di dalam tubuh. Namun bila terjadi mual, kram pada otot, bahkan peningkatan berat badan, ini semua merupakan efek samping dari terapi hormon.

(Baca juga: penyembuhan kanker serviks berdasarkan stadium penderita)

  • Radioterapi

Pengobatan dengan radioterapi akan mampu mendukung pencegahan kanker untuk kembali lagi, khususnya bagi yang sudah menjalani proses histerektomi. Pada kasus lebih lanjut, penggunaan radioterapi juga bertujuan untuk membuat penyebaran kanker terhambat. Bila keadaan pasien tak memungkinkan untuk menempuh jalur operasi agar rahim dapat diangkat, radioterapilah yang bisa dipilih.

Hanya saja, sama seperti proses kemoterapi, ada sejumlah efek samping yang akan membuat pasien tidak nyaman. Pendarahan pada bagian rektum serta perih dan memerahnya kulit yang diobati adalah contohnya. Tapi efek samping tersebut bakal memudar saat Anda sudah menghentikan pengobatan ini.

(Baca juga: 5 pembagian stadium kanker serviks – radioterapi kanker serviks)

Jangan ragu untuk segera ke dokter bila mengalami atau merasakan 2 atau lebih tanda-tanda kanker rahim tersebut. Lebih baik terdeteksi secara dini daripada terlambat.

ads

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,
Post Date: Thursday 21st, July 2016 / 17:09 Oleh :
Kategori : Kanker Rahim