Sponsors Link

12 Penyebab Kanker Ovarium – Metode Diagnosa, Cara Mengobati dan Cara Mencegah

ads

Kanker ovarium merupakan sebuah penyakit yang ada di peringkat ketujuh dari segala jenis kanker terumum yang diidap oleh wanita. Kanker ini pertumbuhan dan perkembangannya terjadi di ovarium atau istilah lain yang kita kenal adalah indung telur. Bila biasanya kanker lebih umum dialami oleh orang-orang yang berusia lanjut atau yang setidaknya sudah memasuki usia di atas 50 tahun, kanker ini pun sama saja targetnya, meski memang wanita semua umur dapat mengidapnya.

Hanya saja, memang wanita yang telah lewat masa menopausenya memang lebih berisiko terkena penyakit kanker ovarium, tapi meski begitu tak menutup peluang para wanita yang lebih muda untuk terjangkit juga. Untuk dapat mencegah penyakit kanker ovarium ini, tentu mengetahui setiap penyebabnya adalah hal yang penting. Di bawah ini adalah ulasan tentang penyebab kanker ovarium berikut juga faktor-faktor yang mampu meningkatkan risiko tersebut.

(Baca juga: kanker serviks)

  1. Umur

Memang semua wanita, berapapun usianya sangat bisa terkena kanker ovarium, tapi yang lebih besar potensinya untuk terkena penyakit ini adalah para wanita yang usianya sudah lebih dari 50 tahun atau bahkan yang umurnya sudah dari 63 tahun lebih. Bagi para wanita yang sudah melalui masa menopause juga akan lebih besar lagi potensi terserang kanker ovarium. Itulah mengapa melakukan check up secara rutin akan membawa keuntungan tersendiri bagi kita para wanita, apalagi yang sudah menginjak umur tersebut.

(Baca juga: kanker serviks pada wanita)

  1. Obesitas

Para wanita yang bertubuh gemuk, apalagi yang berat badannya jauh dari ideal alias obesitas perlu mewaspadai adanya kanker ovarium. Risiko kanker ovarium lebih tinggi terjadi pada para wanita yang kegemukan ditambah malas berolahraga atau menggerakkan tubuh. Gemuk dan malas bergerak adalah dua hal yang sangat berkaitan dalam memicu timbulnya penimbunan lemak serta penyakit-penyakit serius.

Telah ada penelitian yang menyatakan bahwa para wanita yang gemuk memang akan lebih gampang mengalami kanker indung telur dan jumlahnya pun kini semakin bertambah. Obesitas bukanlah sesuatu yang boleh disepelekan meski memang banyak juga wanita gemuk yang tetap percaya diri akan berat dan bentuk tubuhnya.

  1. Menstruasi Pertama sebelum 12 Tahun

Tampak seperti faktor risiko yang ada pada kanker rahim memang, tapi ini juga akan memicu yang namanya kanker ovarium. Bagi para wanita yang dulunya sebelum memasuki umur 12 tahun sudah menstruasi pertama kali, ini rupanya bukan hal yang baik karena menimbulkan potensi besar di kemudian hari dalam mengidap penyakit kanker ovarium. Asalkan hidup dengan pola yang baik, tentu faktor risiko ini bakal mampu diperkecil karena juga tidak semua wanita dengan menstruasi pertama lebih awal pun kemudian mengalami kanker ovarium secara pasti. Check up rutin adalah cara terbaik untuk mengetahui kondisi kesehatan terkini kita untuk mengurangi risiko.

(Baca juga: ciri-ciri kanker serviks)

sponsored links
  1. Menopause pada Usia 50 Tahun Lebih

Tak hanya para wanita dengan menstruasi pertama yang sangat awal saja bisa lebih berpotensi terserang kanker ovarium. Bahkan para wanita yang masa menopause dialami setelah mereka berusia 50 tahun pun malah justru membuka peluang lebih lebar bagi sel kanker untuk tumbuh dan menginvasi tubuh.

  1. Kebiasaan Merokok

Tak hanya para pria saja yang bisa memiliki kebiasaan buruk seperti merokok. Banyak juga wanita yang merupakan perokok aktif dan tak menyadari akan bahaya dari merokok dalam frekuensi yang terlalu sering. Rokok adalah barang yang berbahaya dengan berbagai zat beracun yang bisa merusak organ-organ tubuh kita. Kandungan-kandungan yang dapat dijumpai di dalam rokok antara lain adalah karbonmonoksida, nikotin, amonia, tar, arsenik, dan masih banyak lagi.

Merokok adalah kebiasaan yang bakal memicu kanker paru-paru serta kanker tenggorokan, tapi ternyata efek buruknya tak hanya sampai di situ, bahkan seorang wanita berpeluang mengalami kanker ovarium ketika ia punya kebiasaan merokok. Zat-zat jahat pada rokok mampu merusak berbagai organ tubuh kita, tak hanya bagian paru-paru saja. Maka menghentikan kebiasaan ini sedini mungkin tentu adalah cara untuk menyelamatkan jiwa kita agar di kemudian hari tubuh kita aman dari segala kemungkinan penyakit kronis dan serius.

(Baca juga: gejala kanker paru-paruciri-ciri kanker mulut)

  1. Belum Pernah Hamil

Cukup mirip bukan dengan penyebab kanker rahim? Wanita yang belum pernah melahirkan atau punya anak dalam sejarah reproduksinya rupanya malah tidak aman. Kondisi ini malah memperbesar risiko seorang wanita dalam mengidap penyakit kanker ovarium. Bagi para wanita yang kiranya tidak dikaruniai anak, sebaiknya memang harus check up ke dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh supaya bisa terhindar dari kemungkinan serangan kanker ovarium dan kanker rahim.

  1. Melahirkan Lewat dari Umur 30 Tahun

Melahirkan anak setelah usianya mencapai 30 tahun ke atas tak hanya lebih rawan, tapi hal ini pun juga menaikkan risiko terkena penyakit kanker ovarium. Para wanita dengan sejarah reproduksi seperti ini diharapkan lebih waspada dan menjalani pola hidup benar supaya kanker ovarium tak gampang menyerang.

(Baca juga: gejala kanker rahim)

  1. Jumlah Siklus Menstruasi

Tentu tak akan mudah menghitung seberapa banyak jumlah siklus menstruasi yang telah kita lewati. Para wanita perlu tahu akan hal ini di mana ada kaitan erat antara jumlah siklus datang bulan dengan risiko mengidap kanker ovarium. Ini dikarenakan makin tingginya risiko terserang kanker ovarium, itu artinya sudah sangat banyak siklus menstruasi yang dilewatinya, maka misalnya seorang wanita mengalami menstruasi sebelum 12 tahun, lalu menopause di atas 50 tahun, jelas jumlah siklus menstruasi lebih banyak dan risiko kanker ovarium jauh lebih besar.

  1. Faktor Genetik dan Keturunan

Kanker ovarium pun potensinya bisa menjadi lebih tinggi ketika anggota keluarga atau saudara kandung pernah mengidapnya. Bahkan ketika salah seorang keluarga kita ada yang pernah punya riwayat kesehatan menderita penyakit kanker payudara, potensi kita untuk terserang kanker ovarium juga besar. Untuk lebih spesifiknya, seorang wanita yang saudara perempuannya atau ibunya pernah atau sedang mengidap kanker ovarium, dirinya pun berkemungkinan besar bisa terkena juga.

(Baca juga: penyebab kanker payudara)

  1. Pemakaian Obat Penyubur Kehamilan

Ditunjukkan oleh beberapa penelitian bahwa ada kemungkinan untuk timbul tumor ovarium pada wanita yang menggunakan obat penyubur kehamilan, contohnya adalah clomiphene citrate. Hal ini lebih berisiko ketika obat dipakai dan rupanya wanita yang mengonsumsi tidak hamil-hamil juga. Penting untuk selalu mengonsultasikan apapun dengan dokter, apalagi tentang pemakaian obat tertentu, seperti penyubur kehamilan. Akan lebih baik kalau ada konsultasi dengan dokter karena para wanita pun tak aman dari kanker ovarium bila mandul.

  1. Melakukan Terapi Penggantian Hormon Estrogen

Untuk terapi seperti penggantian hormon estrogen, para wanita harus berhati-hati dan melakukannya atas anjuran atau di bawah pengawasan dokter supaya tidak berbahaya bagi tubuh apalagi kalau pemakaiannya berdosis tinggi. Ini pun tak akan baik untuk tubuh kita apabila digunakan dalam waktu yang lama.

(Baca juga: cara deteksi dini kanker serviks dan cara pencegahannya)

  1. Memiliki Endometriosis

Para wanita dengan masalah endometriosis jelas akan lebih tinggi risiko terkena kanker ovarium. Endometriosis ini termasuk kelainan yang serangannya dilancarkan ke bagian sistem reproduksi wanita. Kemunculan penyakit ini ada pada jaringan lapisan dalam di dinding rahim, atau pertumbuhan endometrium bertempat di luar rongga rahim.

Untuk mengetahui apakah seorang wanita memiliki masalah ini, bisa dilihat pada waktu ia datang bulan, jika saat menstruasi begitu sakit luar biasa, maka perlu dicurigai. Tak hanya itu, pendarahan berlebih juga dapat dialami ketika datang bulan, bahkan ketika buang air kecil maupun besar rasa sakit akan muncul. Periksakan segera supaya endometriosis mendapatkan pengobatan dan tidak memicu kanker ovarium.

(Baca juga: ciri-ciri kanker rahim)

Metode Diagnosa Kanker Ovarium

Dokter akan selalu mengawali diagnosa dengan menanyakan hal-hal penting terkait dengan gejala apa saja yang pasien sudah alami, kemudian dilanjutkan dengan mengecek riwayat kesehatan anggota keluarga pasien, baru setelah itu beranjak ke pemeriksaan fisik. Berikut adalah beberapa langkah metode pemeriksaan yang akan dokter rekomendasikan kepada pasien:

  1. USG – USG tentu bukan hanya sebuah metode pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh para wanita hamil untuk mengetahui dan mengecek jenis kelamin calon bayinya. Dengan USG bagian perut, dokter akan mengetahui seperti apa struktur, ukuran maupun bentuk dari ovarium pasien. Tak hanya di bagian perut, daerah organ intim juga akan di USG untuk memperoleh hasil yang lebih detil.
  2. Tes Darah – Prosedur pemeriksaan ini akan membantu pasien mengetahui positif tidaknya ia mengidap kanker ovarium. Pada proses ini, keberadaan protein CA 125 akan dideteksi pada darah dan kalau kadarnya tinggi, inilah yang menjadi tanda bahwa kanker ovarium tengah dialami pasien. Hanya saja ini bukan hal yang bisa dijadikan patokan satu-satunya sebab fibroid di rahim kita pun bisa menjadi faktor pemicu peningkatan pada CA 125. Ditambah juga, penderita kanker ovarium tak semuanya kemudian mempunyai CA 125 dengan kadar yang tinggi.
  3. CT atau MRI Scan, Biopsi Kanker, dan Rontgen Dada – Prosedur atau metode pemeriksaan ini akan menjadi prosedur lanjutan apabila dokter sudah mengatakan bahwa pasien positif menderita kanker ovarium dari pemeriksaan sebelumn-sebelumnya. Dengan menggunakan CT atau MRI scan berikut juga rontgen dada lalu biopsi ini dokter akan menolong kita mengetahui sudah seberapa berkembang kanker ovarium tersebut dan sudah pada stadium ke berapa. Sampel cairan akan diambil dari jaringan ovarium dan rongga perut untuk diperiksa dan baru kemudian didapatkan hasil perkembangan kanker sudah sejauh mana.

(Baca juga: radioterapi kanker serviks)

Dari serangkaian proses pemeriksaan, dokter kemudian baru bisa menentukan kanker ovarium pada pasien sudah pada stadium ke berapa. Dengan mengetahui sudah seberapa serius kanker ini, maka pengobatan yang paling sesuai juga akan dipilih oleh dokter bagi pasien. Ada 4 stadium pada tahapan perkembangan kanker umumnya, seperti berikut ini:

  • Stadium 1 adalah fase di mana hanya salah satu saja atau dua ovarium yang diserang oleh kanker, tapi ini masih awal sehingga penyebaran belum terjadi.
  • Stadium 2 adalah fase di mana sudah terjadi penyebaran kanker ke jaringan yang ada pada area pinggul dari ovarium.
  • Stadium 3 adalah fase di mana penyebaran kanker sudah sampai di selaput perut, kelenjar getah bening yang ada di panggul serta permukaan usus.
  • Stadium 4 adalah fase di mana penyebaran kanker telah sampai ke bagian tubuh lainnya, seperti paru-paru, hati, dan ginjal.

(Baca juga: langkah mengetahui faktor resiko kanker serviks)

Sponsors Link

Cara Mengobati Kanker Ovarium

Pengobatan antara satu penderita kanker ovarium dengan penderita yang lain tidaklah sama karena stadium kankerlah yang menentukan pengobatan yang tepat, begitu pula kondisi kesehatan. Berikut adalah pengobatan medis yang perlu ditempuh pasien kanker ovarium demi membaiknya kondisi mereka.

  1. Operasi

Biasanya operasi adalah langkah atau pilihan pengobatan paling akhir untuk ditempuh, tapi operasi pada kanker ovarium amat penting. Di prosedur satu ini, pengangkatan rahim, tuba falopi, omentum atau jaringan lemak yang ada pada perut serta kedua ovarium pasien adalah yang akan dilakukan. Bahkan pengangkatan kelenjar getah bening di bagian panggul juga bisa dilibatkan pada operasi ini, juga bagian rongga perut supaya penyebaran kanker terdeteksi dan tercegah dengan benar.

Namun ketika rahim dan juga kedua ovarium diangkat, sementara pasien masih tergolong muda, ada risiko besar yang harus diterima. Terangkatnya kedua bagian tersebut, tentu sudah hilang kemungkinan pasien untuk memiliki anak. Itu adalah risiko yang perlu ditanggung ketika operasi dilakukan saat stadium sudah ada di level akhir, sedangkan pada stadium awal, operasi bisa dilakukan hanya untuk mengangkat salah satu ovarium saja bersama dengan tuba falopi di mana ini artinya masih ada kemungkinan untuk memiliki anak.

  1. Kemoterapi Kanker

Kemoterapi masih harus menjadi prosedur pengobatan yang ditempuh pasien walaupun pasien sudah selesai operasi. Ini perlu dilakukan supaya sel-sel kanker yang masih ada di dalam tubuh bisa terbunuh secara tuntas. Umumnya, obat yang digunakan adalah carboplatin di mana untuk mengombinasikannya dokter pun akan memberikan paclitaxel.

Perkembangan pasien akan diikuti dan dipantau cukup ketat oleh dokter selama proses kemoterapi sehingga dapat diketahui apakah obat yang diberikan benar-benar efektif. Tak cuma itu, dokter juga perlu melihat respon tubuh pasien terhadap obat yang diberikan ketika menjalani kemoterapi.  Pemberian kemoterapi juga terkadang dilakukan dokter sebelum pasien dengan kanker ovarium stadium lanjut melakukan operasi. Ini tujuannya adalah untuk membuat tumor lebih kecil sehingga pengangkatan tumor bisa lebih gampang.

Mungkin telah kita ketahui betul bahwa kemoterapi bukanlah pengobatan yang diberikan tanpa efek samping. Ketika pasien sudah sanggup dan yakin untuk menempuh jalur pengobatan ini, beberapa efek samping pun harus siap dihadapi, seperti:

  • Risiko infeksi.
  • Rambut rontok.
  • Tubuh merasakan kelelahan.
  • Nafsu makan menurun.
  • Mual
  • Muntah

(Baca juga: efek kemoterapi kanker getah bening)

Cara Mencegah Kanker Ovarium

Sebenarnya tidak sulit menjadikan tubuh kita jauh dari penyakit, apalagi kanker ovarium. Di bawah ini dapat disimak apa saja cara untuk mencegah kanker ini berkembang di dalam tubuh kita.

  • Menjaga pola makan tetap sehat dan seimbang.
  • Bergaya hidup sehat.
  • Menurunkan berat badan apabila mengalami obesitas.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Menjalani proses kehamilan serta menyusui.
  • Memakai kontrasepsi yang berwujud pil karena pil kontrasepsi yang bentuknya pil ini apabila dikonsumsi kurang lebih 5 tahun sudah dibuktikan mampu menurunkan risiko kanker ovarium sampai setengahnya.

(Baca juga: manfaat kacang almond untuk kankermanfaat brokoli untuk kankermanfaat bayam untuk kanker)

Karena usia hidup seorang wanita bisa berkurang dikarenakan kanker ovarium yang menggerogoti, pencegahan tersebut akan sangat membantu. Membiasakan hidup sehat adalah langkah bijak yang tak akan membawa kerugian bagi kita.

ads

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, ,
Post Date: Thursday 09th, June 2016 / 15:11 Oleh :
Kategori : Kanker Ovarium